Selasa, 16 Oktober 2012

Jingga pada matahari terbenam

Jingga, ayo masuk nak!”
“iya ibuuu, sebentar lagi. Jingga mau lihat matahari terbenam”
“tapi diluar hujan, ayo nak masuk!”

ah! ibu selalu saja…
Tahukah ibu? Ketika matahari terbenam,
dia selalu datang.

Hey, kamu.. kita bertemu lagi ya besok. Iya di sini.
Tapi jangan sampai Ibu tahu.
Janji yah…

***
“Jingga, kenapa kamu suka melihat matahari terbenam?”
“Tak apa, matahari itu cantik ketika terbenam, warnanya pun cantik…”
“Jingga, kamu tahu? Matahari itu seperti kamu, selalu ada untuk menghangatkanku..”
“masa? Jangan bohong!”
“aku tak pernah bohong Jingga. Lihat, matahari itu bulat seperti wajahmu.”
“Hemm, baiklah kalau begitu panggil aku dewi matahari”
“Tidak, aku akan tetap memanggilmu Jingga, Jingga, Jinggaaaaaa..”

“Jingga ayo masuk!!”

Hhhh.. lagi-lagi Ibu datang.. besok kita bertemu lagi yah…

***

“Mas, sudah yah. Kasihan Jingga menunggu di luar . sudah hampir malam, aku takut dia masuk angin..”
“Tapi besok aku datang lagi yaa…”
“iya Mas, bisa mati aku karna rindu.. hihihihi.. Eh jangan lewat situ! Jingga sedang duduk di situ…”

***

“Jingga…”
“Iya..?”
“kamu sedang apa?”
“Sedang bermain…”
“Dengan siapa?”
“Dengan bayangan.. sebentar lagi matahari terbenam, bayangan pasti pergi”
“Jingga ketika bayangan pergi, kamu sedih?”
“Iya..”
“Kalau kamu ikut serta mau?”
“Mau..”
Hey Ibu datang… besok kita main lagi…

***

“Mas, maasss.. sudaahhh.. aku sudah letih..besok kita lanjutkan lagi”
“Murni, sedikit lagi, kamu tahu kan kita baru beberapa jam, aku bayar kamu penuh hari ini..”
“aku ngerti mas, tapi aku punya Jingga, dia belum makan. Dari pagi aku mengurusi pria-pria kehausan. Menelantarkan anakku. Kasihan dia, kena angin laut dari pagi hingga petang…”
“oke.. oke.. sudah, cukup! Aku pergi. Tap janji besok harus lebih lama dari ini!”
“siippp beres…”

***

“Hey Jingga…”
“Iya?”
“kamu pernah bosan bermain denganku”
“Tidak..”
“kenapa?”
“Tak apa. Aku suka berada di sini, jauh dari rumah, rumahku yang bau apek. Aku lebih suka bau laut”
“Ibumu datang..”
Iyah aku tahu, sampai besok…

***

“Jingga, dengarkan Ibu. Jingga, kita hanya berdua di rumah ini, ibu bekerja, dan Jingga bermain. 
Jingga tahu? Ibu khawatir ketika Jingga bermain di laut. Di sana itu berbahaya. Ibu mau Jingga di sini, di rumah. Supaya Ibu tidak khawatir. 
Jingga tahu? Ibu tidak bisa bekerja, ibu memikirkan Jingga. Sudahkah Jingga makan? Sudahkah jingga mandi? Adakah yang menggaggu Jingga diluar? 
Jadi, Jingga mau kah berhenti main di laut?”  

"iya Ibu…”

***

Ibu… tahukah ibu, suara itu sangat mengganggu….

***

Ibu.. Jingga tak suka orang itu pegang-pegang Ibu..
Jingga tak suka orang itu peluk-peluk ibu.

***

Ibu.. Jingga mau main di laut.
Ibu… Jingga tak suka bau ini.
Bau keringat.
Ibu.. Jingga mau menghirup bau laut.
Jingga mau bermain dengan matahari.
Ibu.. biarkan Jingga bermain dengan mereka.

***

Tak apa Jika seharian Jingga diluar,
tak  apa jika seharian Jingga  belum makan.
Tak apa ibu…
Tak apa Jingga menunggu ibu dilaut..
Jingga mau main di laut ibu…

***
Tahukah ibu? Jingga lebih suka melihat ibu sehabis matahari tenggelam..
Jingga lebih suka melihat ibu tanpa peluh.
Jingga suka mencium ibu yang memakai wewangian mawar.
Jingga suka ibu memakai baju indah.
Jingga suka ibu terlihat cantik.
Bukan seperti ini…
telanjang,
berminyak,
penuh peluh,
kotor,
bersama pria.


Ibu… Jingga sayang ibu…


Tidak ada komentar:

Posting Komentar